Tak terbantahkan lagi jika pada paruh kedua dekade 2000-an ini, dunia pendidikan Indonesia kedatangan tamu penting. Tamu yang membawa kabar perubahan. Dunia pendidikan kita dituntut untuk mengubah paradigma pengajarannya. Dari pengajaran yg berpusat pada guru (teacher centered learning) menjadi berpusat pada siswa (student centered learning). Pada tataran yang lebih tinggi gaya pengajaran baru tersebut dibungkus dengan nama yang cukup mentereng yakni KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) yang kemudian berkembang menjadi KTSP (Kurikulum Satuan Tingkat Pendidikan). Nama yang terakhir diterapkan pada dunia sekolah menengah.
Pengajaran gaya baru tersebut menitikberatkan pada keaktifan siswa dan atau mahasiswa. Peserta didik dituntun dan dituntut untuk mengalami sendiri atau menemukan sendiri kebenaran ilmu pengetahuan yang sedang mereka pelajari. Guru dan dosen berubah peran dari sosok yang sok-tahu dan sok benar menjadi sosok motivator dan fasilitator. Guna menyukseskan program ini, telah banyak pelatihan dan seminar yang diadakan. Respon dari pelaku pengajaran (guru dan dosen) terhitung sangat besar, setidaknya di seputaran Jawa Tengah. Guru dan dosen dituntut untuk segera menguasai cara pengajaran KBK-isme tersebut. Sekarang masalahnya, bagaimana dengan peserta didiknya? Sudahkah mereka siap dengan perubahan ini? Sudahkah mereka disiapkan dengan perubahan ini?
Pengalaman saya menunjukkan bahwa pada saat proses belajar mengajar berlangsung, masih minim keterlibatan mahasiswa di kelas. Seolah-olah saya tidak sedang menerapkan program KBK. Saya sempat tertegun dan nyaris putus asa dengan keadaan ini. Namun saat proses pengajaran berakhir yang ditandai dengan ujian akhir semester serta yudisium, saya dengan segera mengubah pendapat saya. Ternyata saya berhasil...BERHASIL ! Betapa tidak, saya bahagia mendapati mahasiswa/i saya begitu aktif......begitu semangat........begitu antusias...........
Ya mereka antusias untuk menelpon saya, mengirim sms kepada saya dan mencari-cari saya demi untuk menanyakan mengapa nilai mereka C, CD, D bahkan E.
Tak habis pikir, mengapa baru sekarang mereka meluap-luap? bukankah sudah terlambat? Mengapa tidak mereka tunjukkan kemampuan mereka itu saat di kelas?
Mahasiswa, sudahkah mereka dipersiapkan untuk siap mengahadapi kelas KBK?
Pertanyaan ini saya tujukan kepada Dekan fakultas saya.
Silakan dijawab....eh semoga dekanat fakultas saya yang konon sangat peduli dengan pendidikan itu...suka iseng main internet sehingga bisa nemu blog saya ini dan membacanya dan kemudian menjawabnya .....dengan program kerja. Saya tunggu. Salam.
Tampilkan postingan dengan label kbk. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kbk. Tampilkan semua postingan
Minggu, 01 Februari 2009
Langganan:
Postingan (Atom)

